Pasar otomotif Indonesia menghadapi tantangan yang signifikan menjelang tahun 2025, terutama dikarenakan penurunan penjualan kendaraan. Keberadaan insentif untuk industri otomotif, terutama yang berbasis pada peningkatan lokalisasi komponen, menjadi sorotan utama oleh para ekonom dan pemangku kepentingan untuk merangsang pertumbuhan sektor tersebut.
Dalam kontek ini, penelitian dari lembaga terkemuka seperti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat memberikan wawasan terkait langkah-langkah yang diperlukan. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, diharapkan industri otomotif dapat bertransformasi dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional.
Peran Pemberian Insentif untuk Industri Otomotif
Pemberian insentif yang berfokus pada lokalisasi komponen dapat membantu meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB). Insentif ini diharapkan juga dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat lokal, sehingga memberikan manfaat luas bagi ekonomi.
Ekonom dari lembaga penelitian tersebut menyatakan bahwa skenario insentif lokalisasi menawarkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kebijakan yang ada saat ini. Penelitian ini menunjukkan bahwa sektor otomotif dapat mencapai pertumbuhan yang lebih pesat dengan penerapan skenario ini.
Selain itu, efek positif dari pemberian insentif ini juga dapat dirasakan oleh konsumen. Dengan harga yang lebih terjangkau, diharapkan akan ada pergeseran minat masyarakat ke kendaraan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Kenaikan Pangsa Pasar Kendaraan Ramah Lingkungan
Dari hasil simulasi, kontribusi kendaraan listrik hibrida (HEV), hibrida plug-in (PHEV), dan baterai listrik (BEV) di skenario baseline diperkirakan mencapai 25 persen. Namun, jika skenario berbasis lokalisasi dilaksanakan, pangsa pasar dapat meningkat menjadi 27,4 persen.
HEV diharapkan menjadi primadona dalam kategori ini, dengan banyak konsumen yang beralih dari kendaraan bermesin bensin. Peralihan ini tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga membantu mencapai target pengurangan gas rumah kaca.
Studi juga menunjukkan bahwa penerapan insentif berbasis lokalisasi dapat menurunkan harga kendaraan hibrida. Penurunan harga ini berdampak langsung pada daya beli konsumen, sehingga mendorong lebih banyak orang untuk memilih kendaraan ramah lingkungan.
Proyeksi Penjualan Kendaraan di Tahun 2030
Proyeksi penjualan kendaraan memperlihatkan bahwa setelah penurunan tajam pada 2025, pasar otomotif diperkirakan akan pulih. Dengan kata lain, total penjualan kendaraan diperkirakan mencapai 1,32 juta unit pada tahun 2030.
Hal ini menjadi indikasi bahwa adanya kebijakan yang mendukung dapat menghasilkan efek jangka panjang yang positif. Sebab, pasar otomotif yang sehat sangat penting bagi kestabilan ekonomi negara.
Dengan situasi ini, kualitas produk otomotif dalam negeri juga diharapkan dapat meningkat. Konsumen akan lebih cenderung memilih produk dalam negeri yang menawarkan teknologi lebih baik dan efisiensi energi yang lebih tinggi.
